HARI ITU
Siang itu Ridha terdiam lesu di tepi
sungai melihat fenomena alam di hadapannya. Pakaiannya kian basah terkena
aliran keringat yang terus mengalir bagai anak sungai. Fikirannya
melayang-layang tak menentu mengingat kegagalannya untuk mengikuti olimpiade SAINS
se_Provinsi yang telah dipersiapkannya tak kurang sebulan yang lalu. Beragam
buku telah disselesaikannya bahkan les privat telah diikutinya hingga tak
jarang pula sakit pun dideritanya lantaran kesungguhannya dalam berlatih yang
sempat membuatnya lupa makan. Dia tampak sangat menyesal akan keputusannya
untuk ikut berkunjung ke rumah pamannya yang membuat ia tak menerima info
tentang olimpiade itu, sesekali tampak air matanya mengalir di beranda pipi
apalagi saat terbayang olehnya wajah sang ayah yang seminggu belakangan ini
jadi sosok nan galak menakutkan.
Ia sangat menyesalkan sekolahnya
yang tak pernah siap siaga dalam event-event penting. “Sekolahku emang ga
bermutu!” gerutunya dalam hati. Gadis dengan rambut hitam ikal mayang itu terus
melamun di atas batu yang memang sudah biasa ditempatinya, ia bertengger bak
burung kenari yang tak mampu mengepakkan sayap, lemah, lesu, dan tampak tak
bersemangat sekali. Daun-daun akasia yang melayang lembut di atas rambutnya
seakan menjadi lagu pengiring lamunan gadis mungil 13 tahun itu. Ridha sangat
kesal dengan sekolahnya yang kurang gesit dalam penerimaan informasi-informasi
dari dinas hingga semuanya harus selalu mepet. Semuanya terasa sangat berat
apalagi dia tak pernah punya teman untuk berbagi rasa karena selalu malu untuk
bercerita dengan siapapun termasuk Rena, sahabat karibnya sejak SD. Semua rasa
itu ditanggungnya sendiri dalam hati.
Kriiiiiiiiiiing ......... bunyi
HP memecah lamunannnya, saat dilihat ternyata Bu Indhi sang ibu mengirim sms
untuk menyuruhnya pulang. Tanpa bertele-tele Si gadis manis itu langsung
beranjak dari tempat duduknya, dikayuhnya sepeda dengan kecepatan tinggi supaya
cepat sampai ke rumah karena dia takut dimarahi ayahnya jika terlambat serta
takut dihujani pertanyaan-pertanyaan yang menusuk dari kakaknya.
Setiba di teras rumahnya,terdengar
suara krasak krusuk dari dalam rumah, dan saat mendekat dikenalinya suara itu,
ayah ... ibu ..., ada sedikit kecemasan di hatinya karena saat itu terdengar
suara ayah yang menjolak seakan membentak ibu.
“Mungkin itu karenaku!” fikirnya dalam
hati.
Ridha
langsung berlari dari jalan belakang dan masuk ke kamar serta menguncinya. Tak
terbesit sedikit pun keberanian di hatinya untuk keluar menyaksikan
pertengkaran orang tuanya yang akhir-akhir ini hampir tiap hari terdengar di
telinganya. Ia langsung berbaring seraya menutup mata dan telinga dengan guling
kesayangannya.
Seminggu berlalu, rasa menyesal dan
kesalnya tak kunjung hilang, ditambah lagi masalah ayah dan ibu yang tak dapat
dimengerti membuat dadanya semakin terguncang.
Denting suara adzan kini
memecahkan susana kalut dalam jiwanya seyogyanya ia pergi ke kamar mandi untuk
mengambil wudhu, kemudian berangkat ke mesjid Al-Iman yang berada sekitar
seratus meter dari rumahnya. Fikirannya menjadi tenang saat berada dalam mesjid
itu, kenapa tidak karena kekhusyuan gadis itu tak kalah dengan khusyuknya para
wali. Doa dan rasa hati ikut mengiringi setiap sujudnya. Ia seakan sedang
berkomunikasi dengan sang kholiq sampai – sampai air matanya pun menetes lembut
di pipi saat dia berdoa dan berkeluh pada kholiqnya. Jari jemarinya yang
lembut senantiasa menghapus air mata itu
“Ya
Allah ....
Padamu
hamba memohon ....
Ampunilah
dosa-dosa yang pernah hamba lakukan ....
Berikanlah
hamba kekuatan Ya ALLAH ....
Tolong
damaikan ayah dan ibu hamba,
Hamba
benar-benar sedih melihat pertengkaran itu setiap hari,
Yaa
Allah hamba memohon dengan segenap jiwa raga,
Kabulkanlah
doa hamba ini ya Allah,
Aamiin
aamiin aamiin ya robbal ‘alamiiin ....
Air matanya kembali mengalir, kali ini
hingga merembes ke mukena yang digunakannya karena ia tak sempat tuk
menghapusnya. Dadanya terasa plong saat meneteskan air mata itu lalu segera
menyekanya. Ia segera mengemaskan alat shalat mengingat banyak sekali
tugas yang harus ia selesaikan malam ini. Dilipatnya sejadah warna hijau muda
yang telah ia gunakan dan menyimpannya di tempat biasanya. Belum sampai 5 menit
ia tiba di rumah setelah selesai shalat suara hiruk pikuk kembali terdengar....
Saat itu dada Ridha seakan kembali
teriris, baru saja ia tenang setelah mengadu pada sang Robb, keadaan kembali
membuat ia merasa rumahnya bukanlah tempat yang tepat untuk menghilangkan
rasa galau nya itu .... Malam kian larut, namun tak sedikit pun ia merasakan
ketenangan, pikirannya sangat kacau sehingga membuatnya sama sekali tak mampu
untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkannya besok pagi meskipun itu
adalah pelajaran kesukaannya, ya MATEMATIKA. Sesekali sempat terlintas
dihatinya untuk meningalkan rumahnya itu untuk beberapa waktu, tapi kemana???
Rumah nenek??? Lalu apa yang harus kukatakan padanya nanti??? ibu
gimana??? Segera ditolehnya lemari pink di sudut kamarnya dan mengambil kover
besar di atas lemari itu. Namun, lagi-lagi niatnya itu terhalang logika
sehingga ia beralih dari tempat itu dan mengurungkan niatnya. “Pasti ayah akan
mempermasalahkannya dan akan kembali membuat masalah yang akan memberatkan
ibu.” Ia tak tega pada ibunya jika ia tak ada di rumah.
Kreeekkkk. “Sedang apa, Nak?” ibu
membuka pintu kamarnya dan masuk dengan muka yang sedikit kusut. Dilihatnya
mata ibu yang sedikit merah dan sisa air mata yang tertinggal pada bulu
matanya.
“Ibu kenapa??? berantem lagi yaa sama
ayah?” ia mengajak ibunya cerita.
“Tidak, Nak, ibu ingin kamu ke
sana. Ayahmu ingin bicara padamu”
“Ngapain buk??? Ayah mau marahin Ridha
ya? Ridha salah ya buk?”
“Udah, jangan mikir macem-macem gitu,
ibu tunggu di sana!” ucap ibu dengan sedikit memaksanya.
Ridha hanya mengangguk bingung dan
semakin penasaran dengan apa yang akan ayahnya katakan padanya tengah malam
begini. Ia langsung keluar kamar lalu berjalan dengan sedikit gugup,
“Loh ayah mana buk???” Ridha pun duduk
di salah satu kursi disamping ibunya.
“Sebentar lagi juga keluar kok,” wajah
ibu seperti tak bersemangat.
“Ibu kenapa???”
Ehmm,, terdengar dehaman sang ayah
yang kian mendekati tempat duduknya, Ridha kaget melihat kakaknya juga ikut
jalan di belakang ayahnya. Mereka melangkah pelan sambil menyanyikan lagu
Selamat Ulang Tahun yang diiringi gitar merdu abangnya, Vino. Suasana kian rame
sementara Ridha masih terlihat bingung dengan muka polosnya.
“Selamat ulang tahun nak,” ucap ayah
dan ibunya serentak seraya menyodorkan kue ulang tahun bertuliskan namanya.
“Ini kadonya nak, seadanya ...,”
Lanjut ibu dengan senyum lega.
Ridha menangis dan langsung memeluk
ibundanya, ia bahkan sama sekali tak ingat hari itu merupakan hari yang
sangat spesial baginya, ia sangat lupa akan hari dimana 14 tahun lalu ia
tiba di bumi ini. Ridha kembali diam menatap kalender yang ada di
depannya sambil menarik nafas. Ya hari itu 28 Oktober ... hari kelahirannya.
Tapi sikap keluarga dan masalah Olimpiade sangat sukses membuatnya tak
mengingat hari itu. Ia langsung membuka kado dari ibunya, sebuah buku kumpulan
cerpen remaja berwarna putih dengan nama pekarya Ridha Anandha Oktavia,
namanya.
“Loh kok ada namaku buk???” tanyanya
pada ibu tercinta.
“Eeehhh emang di dunia ini nama Ridha
Anandha Oktavia cuma satu ya??” celutuk usil Vino.
“Iya dong kak, namaku kan ga pasaran
kaya namamu!” ucapnya manja dengan lidah melet.
“Namaku kaya nama artis keleeess dek,
uuuu ...,”
“Ihhh gaya banget, ngomong-ngomong,
mana nih kado dari kakak?” menengadahkan tangan pada Vino.
“Adek jelek belum saatnya dapat kado
dari orang seganteng aku, hahaa.”
Mereka semua tertawa bahagia sambil
menikmati kue ulang tahun bikinan Bu Indhi. Ridha baru tahu kalo pertengkaran
ibu dan ayah memang sengaja dilaksanakan saat ia ada di rumah. Ibu, ayah dan kakaknya
ternyata bersekongkol. Ia mengerti kegagalan bukan hanya memuat kisah sedih
baginya. Tapi bisa jadi menyimpan banyak kisah bahagianya. Dan untuk buku
cerpen itu, ternyata bu Indhi telah mengambil cerpen-cerpen yang telah
ditulisnya sejak dua tahun lalu dan Haji Dul sang ayah yang
menyerahkannya pada salah satu penerbit Indie kenalannya.
Ridha tak menyangka ia bahkan telah
menjadi seorang penulis tepat di hari Sumpah Pemuda dan hari ulang tahunnya.
wiww
BalasHapus