Minggu, 13 September 2015



HARI ITU

Siang itu Ridha terdiam lesu di tepi sungai melihat fenomena alam di hadapannya. Pakaiannya kian basah terkena aliran keringat yang terus mengalir bagai anak sungai. Fikirannya melayang-layang tak menentu mengingat kegagalannya untuk mengikuti olimpiade SAINS se_Provinsi yang telah dipersiapkannya tak kurang sebulan yang lalu. Beragam buku telah disselesaikannya bahkan les privat  telah diikutinya hingga tak jarang pula sakit pun dideritanya lantaran kesungguhannya dalam berlatih yang sempat membuatnya lupa makan. Dia tampak sangat menyesal akan keputusannya untuk ikut berkunjung ke rumah pamannya yang membuat ia tak menerima info tentang olimpiade itu, sesekali tampak air matanya mengalir di beranda pipi apalagi saat terbayang olehnya wajah sang ayah yang seminggu belakangan ini jadi sosok nan galak menakutkan.
 Ia sangat menyesalkan sekolahnya yang tak pernah siap siaga dalam event-event penting. “Sekolahku emang ga bermutu!” gerutunya dalam hati. Gadis dengan rambut hitam ikal mayang itu terus melamun di atas batu yang memang sudah biasa ditempatinya, ia bertengger bak burung kenari yang tak mampu mengepakkan sayap, lemah, lesu, dan tampak tak bersemangat sekali. Daun-daun akasia yang melayang lembut di atas rambutnya seakan menjadi lagu pengiring lamunan gadis mungil 13 tahun itu. Ridha sangat kesal dengan sekolahnya yang kurang gesit dalam penerimaan informasi-informasi dari dinas hingga semuanya harus selalu mepet. Semuanya terasa sangat berat apalagi dia tak pernah punya teman untuk berbagi rasa karena selalu malu untuk bercerita dengan siapapun termasuk Rena, sahabat karibnya sejak SD. Semua rasa itu ditanggungnya sendiri dalam hati.
 Kriiiiiiiiiiing ......... bunyi HP memecah lamunannnya, saat dilihat ternyata Bu Indhi sang ibu mengirim sms untuk menyuruhnya pulang. Tanpa bertele-tele Si gadis manis itu langsung beranjak dari tempat duduknya, dikayuhnya sepeda dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampai ke rumah karena dia takut dimarahi ayahnya jika terlambat serta takut dihujani pertanyaan-pertanyaan yang menusuk dari kakaknya.
Setiba di teras rumahnya,terdengar suara krasak krusuk dari dalam rumah, dan saat mendekat dikenalinya suara itu, ayah ... ibu ..., ada sedikit kecemasan di hatinya karena saat itu terdengar suara ayah yang menjolak seakan membentak ibu.
“Mungkin itu karenaku!” fikirnya dalam hati.
Ridha langsung berlari dari jalan belakang dan masuk ke kamar serta menguncinya. Tak terbesit sedikit pun keberanian di hatinya untuk keluar menyaksikan pertengkaran orang tuanya yang akhir-akhir ini hampir tiap hari terdengar di telinganya. Ia langsung berbaring seraya menutup mata dan telinga dengan guling kesayangannya.
Seminggu berlalu, rasa menyesal dan kesalnya tak kunjung hilang, ditambah lagi masalah ayah dan ibu yang tak dapat dimengerti membuat dadanya semakin terguncang.
 Denting suara adzan kini memecahkan susana kalut dalam jiwanya seyogyanya ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, kemudian berangkat ke mesjid Al-Iman yang berada sekitar seratus meter dari rumahnya. Fikirannya menjadi tenang saat berada dalam mesjid itu, kenapa tidak karena kekhusyuan gadis itu tak kalah dengan khusyuknya para wali. Doa dan rasa hati ikut mengiringi setiap sujudnya. Ia seakan sedang berkomunikasi dengan sang kholiq sampai – sampai air matanya pun menetes lembut di pipi saat dia berdoa dan berkeluh  pada kholiqnya. Jari jemarinya yang lembut senantiasa menghapus air mata itu
“Ya Allah ....
 Padamu hamba memohon ....
Ampunilah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan ....
Berikanlah hamba kekuatan Ya ALLAH ....
Tolong damaikan ayah dan ibu hamba,
Hamba benar-benar sedih melihat pertengkaran itu setiap hari,
Yaa Allah hamba memohon dengan segenap jiwa raga,
Kabulkanlah doa hamba ini ya Allah,
Aamiin aamiin aamiin ya robbal ‘alamiiin ....
Air matanya kembali mengalir, kali ini hingga merembes ke mukena yang  digunakannya karena ia tak sempat tuk menghapusnya. Dadanya terasa plong saat meneteskan air mata itu lalu segera menyekanya.  Ia segera mengemaskan alat shalat mengingat banyak sekali tugas yang harus ia selesaikan malam ini. Dilipatnya sejadah warna hijau muda yang telah ia gunakan dan menyimpannya di tempat biasanya. Belum sampai 5 menit ia tiba di rumah setelah selesai shalat suara hiruk pikuk kembali terdengar....
Saat itu dada Ridha seakan kembali teriris, baru saja ia tenang setelah mengadu pada sang Robb, keadaan kembali membuat ia merasa rumahnya bukanlah tempat yang  tepat untuk menghilangkan rasa galau nya itu .... Malam kian larut, namun tak sedikit pun ia merasakan ketenangan, pikirannya sangat kacau sehingga membuatnya sama sekali tak mampu untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkannya besok pagi meskipun itu adalah pelajaran kesukaannya, ya MATEMATIKA. Sesekali sempat terlintas dihatinya untuk meningalkan rumahnya itu untuk beberapa waktu, tapi kemana??? Rumah nenek??? Lalu apa yang harus kukatakan padanya nanti???  ibu gimana??? Segera ditolehnya lemari pink di sudut kamarnya dan mengambil kover besar di atas lemari itu. Namun, lagi-lagi niatnya itu terhalang logika sehingga ia beralih dari tempat itu dan mengurungkan niatnya. “Pasti ayah akan mempermasalahkannya dan akan kembali membuat masalah yang akan memberatkan ibu.” Ia tak tega pada ibunya jika ia tak ada di rumah.
Kreeekkkk. “Sedang apa, Nak?” ibu membuka pintu kamarnya dan masuk dengan muka yang sedikit kusut. Dilihatnya mata ibu yang sedikit merah dan sisa air mata yang tertinggal pada bulu matanya.
“Ibu kenapa??? berantem lagi yaa sama ayah?” ia mengajak ibunya cerita.
“Tidak,  Nak, ibu ingin kamu ke sana. Ayahmu ingin bicara padamu”
“Ngapain buk??? Ayah mau marahin Ridha ya? Ridha salah ya buk?”
“Udah, jangan mikir macem-macem gitu, ibu tunggu di sana!” ucap ibu dengan sedikit memaksanya.
Ridha hanya mengangguk bingung dan semakin penasaran dengan apa yang akan ayahnya katakan padanya tengah malam begini. Ia langsung keluar kamar lalu berjalan dengan sedikit gugup,  
“Loh ayah mana buk???” Ridha pun duduk di salah satu kursi disamping ibunya.
“Sebentar lagi juga keluar kok,” wajah ibu seperti tak bersemangat.
“Ibu kenapa???”
Ehmm,, terdengar dehaman sang ayah yang kian mendekati tempat duduknya, Ridha kaget melihat kakaknya juga ikut jalan di belakang ayahnya. Mereka melangkah pelan sambil menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun yang diiringi gitar merdu abangnya, Vino. Suasana kian rame sementara Ridha masih terlihat bingung dengan muka polosnya. 
“Selamat ulang tahun nak,” ucap ayah dan ibunya serentak seraya menyodorkan kue ulang tahun bertuliskan namanya.
“Ini kadonya nak, seadanya ...,” Lanjut ibu dengan senyum lega.
Ridha menangis dan langsung memeluk ibundanya,  ia bahkan sama sekali tak ingat hari itu merupakan hari yang sangat spesial baginya, ia sangat  lupa akan hari dimana 14 tahun lalu ia tiba di bumi ini. Ridha kembali diam menatap kalender  yang ada di depannya sambil menarik nafas. Ya hari itu 28 Oktober ... hari kelahirannya. Tapi sikap keluarga dan masalah Olimpiade sangat sukses membuatnya tak mengingat hari itu. Ia langsung membuka kado dari ibunya, sebuah buku kumpulan cerpen remaja berwarna putih dengan nama pekarya Ridha Anandha Oktavia, namanya.
“Loh kok ada namaku buk???” tanyanya pada ibu tercinta.
“Eeehhh emang di dunia ini nama Ridha Anandha Oktavia cuma satu ya??” celutuk usil Vino.
“Iya dong kak, namaku kan ga pasaran kaya namamu!” ucapnya manja dengan lidah melet.
“Namaku kaya nama artis keleeess dek, uuuu ...,”
“Ihhh gaya banget, ngomong-ngomong, mana nih kado dari kakak?”  menengadahkan tangan pada Vino.
“Adek jelek belum saatnya dapat kado dari orang seganteng aku, hahaa.”
Mereka semua tertawa bahagia sambil menikmati kue ulang tahun bikinan Bu Indhi. Ridha baru tahu kalo pertengkaran ibu dan ayah memang sengaja dilaksanakan saat ia ada di rumah. Ibu, ayah dan kakaknya ternyata bersekongkol. Ia mengerti kegagalan bukan hanya memuat kisah sedih baginya. Tapi bisa jadi menyimpan banyak kisah bahagianya. Dan untuk buku cerpen itu, ternyata bu Indhi telah mengambil cerpen-cerpen yang telah ditulisnya sejak dua tahun lalu dan Haji Dul sang ayah yang  menyerahkannya pada salah satu penerbit Indie kenalannya.
Ridha tak menyangka ia bahkan telah menjadi seorang penulis tepat di hari Sumpah Pemuda dan hari ulang tahunnya.